BACKER.BIZ.ID - Pada artikel ini kita akan membagikan tutorial cara membangun bisnis sambil menjadi karyawan.
Dalam kondisi ekonomi saat sekarang ini banyak orang mencari uang tambahan di luar dengan profesi yang dijalaninya.
Baik itu untuk menabung ataupun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Nah salah satu cara mendapatkan uang tambahan adalah dengan cara membuka bisnis.
Namun membuka bisnis dalam kondisi sedang bekerja juga lumayan sulit.
Nah kali ini kita akan membagikan tutorial cara membangun bisnis sambil bekerja menjadi karyawan.
Cara Bangun Bisnis Sambil jadi Karyawan
1. Tentukan Kapasitas Diri
Tanpa berlama-lama, langkah pertama adalah tentukan kapasitas Kamu.
Kita akan mengkategorikannya menjadi tiga kapasitas, yaitu waktu, energi, dan uang. Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, tetapi daripada kita menyalahkan orang yang memiliki lebih banyak uang atau energi, lebih baik kita menyesuaikan strategi berdasarkan apa yang kita miliki.
Karena membangun bisnis itu berbeda dengan membangun freelance sambil menjalankan side hustle.
Mengapa mengatakan ini berbeda tentang bagaimana cara freelance atau menjalankan side hustle sambil bekerja? Realitanya, perbedaan antara membangun bisnis dan freelancing sambil bekerja adalah—kita kembali lagi ke definisi bisnis.
Bisnis memiliki tiga komponen.
Sebuah organisasi yang mencari keuntungan dengan menjual barang atau jasa.
Sedangkan freelance hanya fokus pada dua poin terakhir, yaitu mencari keuntungan—mencari uang—dengan menjual barang atau jasa.
Nah, jika berbicara mengenai bisnis, kita ingin melakukan dua hal:
bagaimana cara menghasilkan uang, namun di saat yang sama bisnis tersebut bisa berjalan otomatis.
Meskipun kita tidak bekerja, uangnya tetap mengalir.
Sedangkan pada freelance, kita tidak bisa melakukan hal seperti itu, karena kita harus terus bekerja.
Kapasitas waktu
Pertama, kita harus membahas tentang kapasitas waktu. Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki 24 jam, dan jika bekerja, sebagian besar waktu tersebut teralokasi pada jam 9 hingga 5 yang tidak bisa diganggu gugat karena merupakan pekerjaan utama.
Dan itu sebenarnya tidak masalah. Namun, satu hal yang pasti jika kita ingin memulai bisnis adalah: kita harus memiliki waktu.
Jika ada yang beralasan, "Aduh, saya tidak punya waktu," sebenarnya, kita harus menciptakan waktu.
Karena sebagian besar orang pasti menghabiskan waktu setelah bekerja dengan menonton Netflix, jalan-jalan bersama pasangan, atau sekadar bersantai.
Mau tidak mau, jika kita ingin membangun sebuah sistem atau bisnis, kita harus menyediakan waktu setiap hari atau setidaknya setiap minggu, dan menentukan berapa jam yang kita alokasikan.
Secara sederhana, cobalah alokasikan 1-3 jam jika memungkinkan, misalnya setelah jam kerja, untuk mengembangkan bisnis.
Dan jangan kecil hati jika pada awalnya kita harus melakukan semuanya sendiri.
Karena di awal, bahkan mulai dari freelance hingga agensi, kita memang harus bekerja sendiri.
Ada banyak contoh bisnis besar yang dimulai dari side hustle.
Dari orang-orang yang, jika memiliki waktu luang, mengerjakan produk mereka, menjualnya dari pintu ke pintu.
Dan sebenarnya, saya juga menyarankan untuk melakukan ini, karena risikonya lebih kecil. Tidak semua orang memiliki keistimewaan—misalnya dalam melakukan bisnis yang gagal dan kita tidak memiliki penghasilan bulanan yang tetap.
Yang pertama harus disiapkan adalah kita harus bisa mengalokasikan 1-3 jam/hari di luar jam kerja untuk mengerjakan bisnis.
Pekerjaan dalam bisnis
Lalu, apa yang harus dikerjakan selama 1-3 jam ini? Pekerjaan dalam bisnis harus dibagi menjadi dua hal: operasional dan pengembangan bisnis.
Operasional adalah kegiatan sehari-hari—misalnya packing, sortir barang, merapikan, mendesain—yang harus dilakukan untuk menjalankan bisnis.
Namun, ada sisi lain, yaitu pengembangan bisnis, yang merupakan kegiatan yang kita lakukan untuk mengembangkan bisnis.
Misalnya, merencanakan strategi atau menghubungi orang lain untuk berkolaborasi. Atau kita bekerja sama dengan merek lain untuk membuat produk yang lebih unik.
Nah, perbedaannya antara membangun freelance dan bisnis adalah kita sebaiknya lebih fokus pada sisi pengembangan bisnis.
Jika Kamu adalah penonton lama saya, pasti tahu bahwa saya selalu mengatakan bahwa bisnis hanya memiliki tiga komponen: Produk, pemasaran, dan operasional.
Untuk membangun bisnis yang berkelanjutan, sebaiknya kita lebih banyak fokus pada pengembangan bisnis.
Memikirkan produk yang lebih baik, cara memasarkan yang lebih unik.
Dan untuk operasional, sebisa mungkin kita sisihkan uang kita, sisihkan keuntungan untuk teman kita, agar kita bisa meng-outsource atau mempekerjakan orang untuk menjalankannya.
Nah, mengenai operasional, itu berkaitan dengan kapasitas kita yang kedua, yaitu energi.
Kapasitas energi
Meskipun kita sudah mengalokasikan 1-3 jam/hari untuk membangun bisnis, namun jika waktu tersebut digunakan untuk membalas CS, packing barang, percayalah, waktu kita tidak akan cukup.
Jadi, apa yang dimaksud dengan energi? Energi di sini adalah sumber daya manusia.
Untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan bisa berjalan otomatis, Kamu harus mulai berpikir bukan sebagai karyawan, tetapi sebagai pemilik bisnis.
Misalnya, jika Kamu memiliki toko online yang menjual barang-barang hadiah, apa kegiatan sehari-hari yang biasanya harus Kamu lakukan—misalnya packing barang, membalas CS—yang memakan banyak waktu Kamu? Jika dipikir-pikir, kegiatan tersebut bisa dikerjakan oleh orang lain.
Pada aspek energi ini, kita harus pintar-pintar, karena selama kita menjadi karyawan, cara kita memiliki waktu lebih di luar dari 1-3 jam itu adalah dengan membeli waktu.
Kita bisa mengajak teman kita, atau meminta bantuan adik kita, atau meminta bantuan teman dengan sistem bagi hasil.
Tentu banyak dari Kamu yang bingung bagaimana cara menentukan gaji atau mencari karyawan. Sebenarnya, untuk bisnis yang baru dimulai, yang paling disarankan adalah memanfaatkan lingkaran pertemanan sendiri.
Waktu, kita sudah bisa mengalokasikan 1-3 jam. Jika memungkinkan lebih banyak, fokuskan pada pengembangan sistem dan bisnis.
Yaitu 3 jam tersebut kita gunakan untuk mencari orang yang bisa menggantikan kita, merencanakan produk, merencanakan pemasaran.
Dari sisi energi, kita harus mulai memetakan, kira-kira apa aspek dari bisnis ini yang bisa di-outsource kepada orang lain?
Biasanya, jebakan terbesar bagi sebagian besar pebisnis pemula adalah mereka berpikir, "Ini bisa saya kerjakan sendiri, mengapa tidak saya kerjakan sendiri? Daripada saya bayar orang, lebih hemat." Secara teknis itu benar. Namun, dengan waktu terbatas yang kita miliki, lebih penting mana, melakukan packing—yang sebenarnya bisa di-outsource ke orang lain—atau berpikir strategi untuk mencapai omzet 10 juta, 100 juta?
Bahkan Kamu boleh menghabiskan waktu 1-3 jam Kamu untuk brainstorming atau mencari tutorial di YouTube, atau menonton video ini untuk mendapatkan perspektif bagaimana cara mengembangkan bisnis.
Karena semakin kita terobsesi dengan operasional, energi yang kita miliki akan terbuang untuk memikirkan bagaimana cara mengembangkan bisnis.
Kapasitas uang Mungkin ada yang berpendapat, "Tentu saja jika gajinya besar, tinggal menyewa orang, kalau gaji saya kecil, bagaimana saya bisa menyewa orang?"
Sederhananya, kebanyakan bisnis di awal membutuhkan modal.
Ya, yang terbesar adalah modal usaha. Namun, karena waktu dan energi kita terbatas, kita harus bisa membeli usaha tersebut.
Secara sederhana, anggaplah kita memiliki gaji 5 juta sebulan.
Kebanyakan orang biasanya mengalokasikan 20% untuk tabungan atau investasi.
Namun, jangan lupa, membangun bisnis adalah investasi.
Jadi, anggaplah kita bisa mengalokasikan 1 dari 5 juta tersebut untuk kas perusahaan, pisahkan uang untuk bisnis dan uang untuk kebutuhan lainnya. Kemudian kita hitung-hitung.
Misalnya, kita perlu menyewa orang untuk packing, atau orang untuk menjadi CS.
Sekarang ini Kamu bisa mencari referensi di internet.
Jasa virtual untuk balas CS, packing barang, itu tidak semahal yang dibayangkan.
Apalagi jika kita bisa meminta bantuan teman atau organisasi kampus, atau teman yang bekerja di perusahaan tersebut.
Karena kebanyakan waktu, ini bukan pekerjaan full time bagi mereka.
Jadi, analoginya bisa dianggap sebagai uang jajan.
Nah itulah informasi mengenai Cara Bangun Bisnis Sambil jadi Karyawan, semoga bermanfaat. (*)
