![]() |
OPINI |
JIKA selama ini Silek Tradisi Minangkabau hanya dipandang sebagai warisan budaya dan cabang olahraga bela diri, maka kita telah menyempitkan maknanya. Lebih dari itu, Silek adalah sekolah karakter, sekolah adab, dan benteng paling kokoh untuk menyelamatkan anak-anak muda dari penyakit masyarakat.
Di tengah gempuran zaman, anak muda kita sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Peredaran narkoba, tawuran, kenakalan remaja, hingga kehilangan jati diri adat menjadi ancaman nyata. Kita bisa marah, bisa cemas, tapi cemas saja tidak cukup. Anak muda butuh ruang, butuh tempat berlabuh yang mengajarkan keberanian tanpa kekerasan, kekuatan tanpa kesombongan.
Dan jawaban itu ada di Sasaran Silek. Di Sasaran, seorang guru tidak hanya mengajarkan bagaimana cara menangkis dan menyerang. Guru mengajarkan Adab Mancak, Adab Makan, Adab Bagaua. Sebelum pandai silek, anak murid diajarkan dulu untuk menghormati orang tua, menghormati guru, dan menghormati sesama. Filosofi “Silek Salangkah, Adab Salapiak” menjadi pondasi utamanya.
Inilah yang tidak didapatkan anak muda di jalanan.
Ketika fisiknya lelah karena latihan di sasaran hingga malam, ketika keringatnya jatuh di tanah sasaran, kapan lagi ada waktu untuk berpikir tentang narkoba? Ketika mentalnya ditempa untuk disiplin, datang tepat waktu, menjaga amanah guru, kapan lagi ada celah untuk terjerumus dalam pergaulan bebas?
Silek mengajarkan bahwa musuh terbesar bukanlah lawan di depan mata, melainkan hawa nafsu dalam diri sendiri. Silek mengajarkan untuk mengendalikan emosi, bukan melampiaskannya.
Kita melihat contoh nyata di Sasaran Silek Staralak, Gunung Timbago. Di bawah bimbingan Guru Syafri Efizon Sidi Madjo Lelo dari Yayasan Sanggar Seni Silek Tradisi Pandeka Tungga, anak-anak muda, termasuk siswi seperti Vella dan Tifa dari SMKN 2 Sawahlunto,serta siswa siswi dari smkn1 dan sman3 kota sawahlunto'menemukan jati dirinya. Mereka tidak lagi menghabiskan waktu nongkrong tidak jelas, mereka memilih berlatih, berkeringat, dan belajar adat.
Inilah gerakan penyelamatan generasi yang sesungguhnya. Murah, merakyat, dan berakar pada budaya kita sendiri.
Sudah saatnya kita berhenti memandang silek sebagai kegiatan pinggiran. Pemerintah, sekolah, ninik mamak, dan orang tua harus duduk bersama menjadikan sasaran silek sebagai ekstrakurikuler wajib, sebagai pusat pembinaan karakter. Alokasikan dana nagari untuk menghidupkan kembali sasaran-sasaran silek yang mati suri.
Jika kita ingin Sawahlunto dan Ranah Minang ini bebas dari narkoba, jangan hanya bangun pos ronda dan spanduk larangan. Hidupkan kembali sasaran silek di setiap nagari. Karena di sanalah anak muda kita diajarkan menjadi jantan yang beradab, dan betino yang bermaruah.
Silek tradisi bukan hanya tentang melestarikan budaya. Silek tradisi adalah tentang menyelamatkan masa depan. (*)

