BECKER.BIZ.ID – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (Disdik Kalteng) menggelar acara Halal Bihalal yang berlangsung pada Senin (5/1) di Aula Berkah. Selain menjadi ajang pertemuan dan silaturahmi, acara ini juga menjadi momen penting untuk refleksi atas kinerja pendidikan di tahun 2025 dan persiapan untuk menghadapi berbagai tantangan di tahun 2026.
Dalam acara tersebut, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, memberikan sambutan yang menginspirasi. Reza mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran berbagai program pendidikan yang telah dijalankan sepanjang tahun 2025. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tahun 2026 akan membawa tantangan yang lebih besar.
"Saya ingin kita bekerja lebih keras, lebih cerdas, dan lebih inovatif. Kita tidak bisa berhenti di tempat, kita harus terus maju dan mengatasi segala rintangan," ujar Reza.
Pentingnya Evaluasi dan Terobosan dalam Dunia Pendidikan
Reza juga menekankan pentingnya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam dunia pendidikan.
"Evaluasi capaian tahun 2025 sangat penting, agar kita tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang perlu dipertahankan," jelasnya.
Tantangan terbesar di tahun 2026, menurut Reza, adalah penurunan transfer daerah yang berakibat pada terbatasnya anggaran untuk sektor pendidikan. Namun, ia optimis dengan berbagai strategi yang sudah disiapkan untuk menghadapinya.
"Anggaran memang terbatas, tetapi kita harus tetap inovatif dalam menciptakan solusi yang tepat. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran," ujar Reza.
Digitalisasi Pendidikan sebagai Solusi untuk Masa Depan
Sebagai upaya untuk mengatasi keterbatasan sumber daya, Disdik Kalteng terus mengembangkan ekosistem pembelajaran berbasis teknologi.
Reza menjelaskan bahwa sejak 2024, pihaknya telah mendistribusikan ribuan unit papan tulis digital ke berbagai sekolah di Kalimantan Tengah.
Dengan memanfaatkan teknologi, Disdik Kalteng berharap kualitas pendidikan dapat meningkat, terutama di daerah-daerah terpencil yang kekurangan tenaga pengajar. "Ini adalah solusi konkret untuk menjembatani kekurangan guru, agar pendidikan di daerah terpencil tetap berkualitas," jelasnya.(*)
