BECKER.BIZ.ID-Pernahkah Anda merasa telah belajar berjam-jam, menghabiskan kopi tiga gelas, begadang sampai pagi, dan highlighter hampir habis, namun saat ujian, Anda merasa blank?
Yang Anda ingat justru lirik lagu yang sedang viral di TikTok atau tutorial coding dan desain.
Saat menonton tutorial, Anda merasa semuanya mudah. Namun, begitu mencoba praktik sendiri, Anda bingung harus mulai dari mana.
Rasanya sangat frustrasi. Anda merasa sudah membuang waktu, merasa bodoh, dan bertanya-tanya, "Apakah saya memang tidak berbakat dalam hal ini?" Sebenarnya, masalahnya bukan terletak pada otak Anda. Masalahnya adalah cara Anda belajar.
Selama ini, kita sering diajarkan cara belajar yang salah, cara belajar yang pasif yang membuat kita cepat merasa mengantuk dan yang 90% ilmunya akan hilang dalam waktu singkat.
Dalam artikel ini, kita akan membahas cara kerja otak dan saya akan memberikan empat langkah efektif.
Ini bukan sekadar tips sederhana, tetapi cara belajar yang lebih cepat, lebih efisien, dan yang paling penting, informasi yang lebih mudah diingat dalam jangka waktu panjang.
Setelah membaca artikel ini, Anda akan sadar bahwa sebenarnya Anda jauh lebih pintar daripada yang Anda kira selama ini.
Mengidentifikasi Penyebab Kesulitan Belajar
Sebelum membahas solusi, mari kita pahami dulu mengapa belajar sering terasa sulit. Jawabannya sederhana: pasif. Coba periksa kebiasaan belajar Anda. Apakah Anda sering melakukan hal-hal berikut?
1. Membaca Ulang Berulang Kali
Membaca ulang buku atau catatan berulang kali sering dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengingat materi.
Namun, yang terjadi sebenarnya adalah otak Anda menjadi terbiasa dengan kata-katanya, bukan konsep yang mendasarinya. Ini disebut dengan "ilusi kompetensi," di mana Anda merasa memahami materi padahal Anda hanya menghafal kata-katanya tanpa memahami makna atau konsep di baliknya.
2. Menggunakan Stabilo Berlebihan
Menggunakan stabilo warna-warni untuk menandai bagian-bagian yang dianggap penting ternyata juga tidak efektif.
Otak kita menerima sinyal palsu bahwa bagian yang ditandai sudah dipahami, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kita hanya memindahkan informasi dari buku ke catatan. Ini bukan belajar, ini hanya mewarnai.
3. Merangkum Tanpa Pemahaman
Banyak orang merasa sudah belajar dengan merangkum.
Namun, sering kali rangkuman tersebut hanya berupa salinan kalimat dari buku dengan bahasa sendiri atau hanya memotong poin-poin yang dianggap penting.
Ini bukan bentuk belajar aktif, karena Anda hanya menuliskan kembali apa yang sudah ada tanpa benar-benar memahami materi.
Belajar secara pasif seperti ini sama halnya dengan menonton video orang berolahraga di YouTube. Anda melihatnya berjam-jam, tetapi apakah tubuh Anda menjadi lebih kuat?
Tentu tidak. Anda hanya tahu cara angkat beban, tetapi tidak pernah melakukannya. Begitu pula dengan belajar. Tanpa mengolah informasi yang Anda pelajari, hasilnya akan sangat terbatas.
Mengoptimalkan Proses Belajar dengan Teknik Aktif
Otak kita bukanlah perangkat penyimpan data pasif seperti hard drive. Otak adalah prosesor yang harus mengolah data untuk benar-benar memahami materi. Lantas, bagaimana cara mengolah data tersebut secara efektif?
Ada dua teknik utama yang jika dikuasai akan mengubah cara Anda belajar secara drastis.
1. Active Recall (Pemanggilan Kembali Aktif)
Active recall adalah teknik di mana Anda memaksa otak Anda untuk mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, bukan sekadar melihat kembali catatan. Ini mirip dengan latihan mengangkat beban.
Meskipun sulit, inilah cara otak Anda menjadi lebih kuat. Bagaimana cara melakukannya? Setelah membaca satu bab atau menonton satu video materi, tutup buku atau matikan video. Kemudian ambil kertas kosong dan tuliskan semua yang Anda ingat. Jelaskan materi tersebut kepada teman atau bahkan kepada diri sendiri. Ketika Anda merasa tidak ingat bagian tertentu, itu adalah blank spot, dan itu bagus karena menunjukkan area yang perlu Anda perkuat.
Anda juga dapat mengubah catatan menjadi pertanyaan, seperti misalnya "Bagaimana cara kerja fotosintesis?" alih-alih menulis penjelasan panjang lebar. Dengan cara ini, catatan Anda berubah menjadi kuis, bukan novel.
2. Teknik Fineman (The Feynman Technique)
Metode ini dicetuskan oleh Richard Feynman, seorang fisikawan jenius. Prinsip dasarnya adalah jika Anda tidak dapat menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana, berarti Anda belum benar-benar memahami konsep tersebut.
Caranya adalah dengan memilih sebuah konsep, misalnya soal inflasi, dan menjelaskannya kepada anak kecil tanpa menggunakan istilah teknis seperti "supply-demand" atau "agregat."
Jika Anda merasa kesulitan menjelaskan, catat bagian yang Anda tidak pahami dan cari jawabannya.
Teknik ini memaksa Anda untuk memecah konsep menjadi bagian-bagian sederhana, sehingga menghindari hafalan buta dan memperkuat pemahaman Anda.
Mengatasi Lupa dengan Teknik Spaced Repetition
Otak kita didesain untuk lupa, dan ini adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Konsep ini disebut dengan "the forgetting curve," yang menunjukkan bahwa kita akan lupa sebagian besar informasi yang baru saja dipelajari dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, teknik yang paling efektif untuk mengatasi lupa adalah dengan menggunakan teknik spaced repetition atau pengulangan terjadwal.
Belajar itu seperti merawat tanaman. Anda tidak bisa memberikan 10 galon air sekaligus dalam satu hari, karena tanaman tersebut akan mati.
Yang benar adalah menyirami tanaman sedikit-sedikit setiap hari. Begitu juga dengan belajar, Anda perlu mengulang materi yang sudah dipelajari beberapa kali dalam jangka waktu tertentu, cukup 10 hingga 15 menit setiap sesi.
Anda bisa menggunakan aplikasi seperti Anki atau Quizlet untuk membantu proses ini.
Menghindari Distraksi dan Meningkatkan Fokus
Salah satu musuh terbesar dalam belajar adalah distraksi. Setiap kali Anda fokus belajar, lalu tiba-tiba ada notifikasi yang mengganggu, otak Anda memerlukan waktu untuk kembali fokus.
Oleh karena itu, penting untuk mengalokasikan waktu untuk fokus penuh dalam periode tertentu tanpa gangguan.
Anda bisa menggunakan teknik Pomodoro, yaitu 25 menit fokus penuh diikuti dengan 5 menit istirahat.
Belajar yang efisien bukanlah soal bakat, tetapi tentang mengembangkan keterampilan yang bisa dilatih. Jika Anda sudah terbiasa dengan cara belajar pasif, sekarang saatnya untuk beralih ke metode yang lebih aktif dan efisien. Cobalah untuk menerapkan teknik active recall dan teknik Fineman dalam proses belajar Anda.
Ingat, semakin Anda mengolah informasi secara aktif, semakin baik otak Anda dalam menyimpan dan mengingat materi.(*)
