-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Padang Gastronomy City: Dari Dapur Ranah Minang Menuju Meja Dunia

31 July 2026 | 31 July WIB Last Updated 2026-07-31T00:22:28Z

 

OPINI

Oleh : Dasrul Ss MSi

(Pengiat seni budaya dan Pariwisata)


Becker.Biz.Id - Selama ini, ketika mendengar kata Padang, yang terbayang oleh banyak orang hanya satu, yaitu rendang. Padahal, Kota Padang tidak hanya memiliki rendang. Kota ini memiliki 11 kecamatan dengan karakter cita rasa dan cerita budaya yang berbeda di balik setiap hidangan.

Sudah saatnya Padang naik kelas. Bukan lagi sekadar dikenal sebagai Kota Seribu Warung Nasi Padang, melainkan sebagai Padang Gastronomy City.

Apa Itu Gastronomy City?

Gastronomi bukan sekadar berbicara tentang makanan yang lezat. Gastronomi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan, budaya, sejarah, alam, dan manusia.

Sebuah Kota Gastronomi adalah kota yang mampu menghadirkan pengalaman budaya melalui makanan. Setiap hidangan memiliki cerita, setiap pasar menjadi ruang budaya, dan setiap wisatawan datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk memahami makna di balik cita rasa.

Beberapa kota di dunia telah berhasil mengembangkan konsep ini, seperti Lyon di Prancis, Oaxaca di Meksiko, dan Penang di Malaysia. Mereka tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjual pengalaman budaya.

Mengapa Padang Layak Menjadi Gastronomy City?

Kota Padang memiliki sedikitnya empat modal utama.

1. Sebelas Kecamatan, Sebelas Karakter Kuliner

Setiap kecamatan memiliki identitas kuliner yang dapat dikembangkan menjadi rute wisata gastronomi.

  • Padang Barat dan Padang Selatan dikenal dengan Sate Padang, aneka kuliner pesisir, serta kawasan Pantai Air Manis.

  • Koto Tangah dan Lubuk Begalung memiliki Ampiang Dadiah, Bubur Kampiun, serta sentra UMKM keripik dan bumbu.

  • Pauh dan Kuranji menawarkan Lapek, Lamang, serta wisata edukasi dan kuliner di kawasan Limau Manis.

  • Padang Timur dikenal sebagai pusat Soto Padang, Dendeng Batokok, dan kuliner pasar tradisional.

  • Bungus Teluk Kabung menjadi kawasan wisata bahari yang kaya dengan olahan ikan bakar dan gulai ikan.

Konsep "Gastronomy Route 11 Kecamatan" dapat menjadi paket wisata tiga hari yang mengajak wisatawan menikmati keberagaman cita rasa Kota Padang.

2. Budaya dan Tradisi sebagai Nilai Tambah

Di Minangkabau, makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagian dari tradisi.

Ada Pasambahan, Makan Bajamba, hingga falsafah "Alam Takambang Jadi Guru" yang menjadi bagian dari pengalaman kuliner masyarakat.

Seluruh unsur tersebut dapat dikemas dalam bentuk atraksi budaya, seperti makan malam dengan pertunjukan Randai, lokakarya membuat salamak yang diiringi musik talempong, hingga festival budaya yang memperkenalkan tradisi Minangkabau kepada wisatawan.

Perpaduan makanan dan budaya inilah yang menjadi keunikan Padang.

3. Pariwisata sebagai Pendukung

Kota Padang memiliki berbagai destinasi wisata, seperti Pantai Padang, Jembatan Siti Nurbaya, Masjid Raya Sumatera Barat, kawasan Bungus, hingga berbagai objek wisata alam lainnya.

Seluruh destinasi tersebut dapat dihubungkan dengan pengalaman kuliner.

Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Padang, misalnya, tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mencicipi gulai tunjang atau hidangan khas lainnya. Begitu pula kawasan Bukit Gado-Gado yang dapat dikembangkan sebagai lokasi menikmati kopi dan pisang bakar dengan panorama Kota Padang.

4. Perantau Minang sebagai Duta Kuliner

Jutaan perantau Minangkabau yang tersebar di berbagai daerah bahkan mancanegara merupakan kekuatan besar dalam memperkenalkan kuliner Padang.

Di sisi lain, Kota Padang juga merupakan kota yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Keberagaman tersebut membuka peluang lahirnya inovasi kuliner tanpa menghilangkan identitas Minangkabau.

Langkah yang Perlu Dilakukan

Untuk mewujudkan Padang Gastronomy City, diperlukan langkah yang terencana.

Di antaranya adalah sertifikasi warung makan berbasis kebersihan, kualitas rasa, dan sejarah menu; pelatihan bagi masyarakat agar mampu menjadi pemandu gastronomi; penyelenggaraan festival kuliner secara rutin; serta penyusunan peta kuliner digital yang memudahkan wisatawan.

Promosi juga perlu diperkuat melalui kolaborasi dengan perantau Minang, maskapai penerbangan, hotel, pelaku industri kreatif, hingga media digital.

Selain itu, Padang dapat dipromosikan sebagai destinasi MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) berbasis gastronomi dengan menghadirkan pengalaman makan bajamba, pertunjukan seni, dan wisata kuliner dalam setiap kegiatan.

Penutup

Padang Gastronomy City bukan sekadar slogan, melainkan visi jangka panjang yang memerlukan kerja sama seluruh pemangku kepentingan.

Jika selama ini Padang hanya dikenal karena rendang, ke depan Kota Padang harus dikenal karena kekayaan kuliner, budaya, seni, tradisi, dan pengalaman yang dimiliki oleh seluruh kecamatannya.

Pada akhirnya, wisatawan mungkin akan lupa apa yang mereka makan. Namun, mereka akan selalu mengingat bagaimana rasanya menikmati kehidupan dan budaya Minangkabau selama berada di Kota Padang. (*)

×
Berita Terbaru Update