![]() |
| Sastra di Tangan Kanan, Medis di Tangan Kiri: Tengku Basti Asika, Jejak Penyair Muda Luak Limopuluah Menuju Dunia Kedokteran |
Payakumbuh, Becker.Biz.Id— Dari Ranah Luak Limopuluah lahir sosok remaja yang menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sastra dan prestasi akademik dapat tumbuh berdampingan. Ia adalah Tengku Basti Asika, pelajar berusia 14 tahun yang dikenal sebagai penyair muda berbakat sekaligus memiliki tekad kuat untuk meniti karier di dunia kedokteran gigi.
Di atas panggung sastra, Tengku tampil percaya diri membawakan puisi dengan penghayatan yang kuat. Namun di balik kecintaannya terhadap dunia literasi, ia menyimpan cita-cita mulia untuk mengabdikan diri sebagai dokter gigi, sebuah pilihan yang mencerminkan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat.
Saat ini, Tengku merupakan siswa kelas IX SMP IT An Nahl Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Perjalanannya menjadi bukti bahwa minat di bidang seni tidak menjadi penghalang untuk meraih prestasi dalam bidang akademik. Justru sebaliknya, ia mampu menunjukkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kreativitas, dan nilai-nilai keagamaan.
Lahir pada 23 September 2011, Tengku merupakan putra sulung dari pasangan Rika Putri Ananda dan Adri Sandra. Sejak usia dini, ia telah menunjukkan ketertarikan besar terhadap sastra, matematika, bahasa Inggris, serta pembelajaran Al-Qur'an. Di tengah kehidupan remaja yang lekat dengan dunia digital, ia memilih mengembangkan diri melalui membaca, menulis, belajar, dan berkarya.
Deretan prestasi yang diraihnya menjadi cerminan dari kerja keras dan konsistensi. Pada tahun 2021, ia berhasil meraih Juara II sekaligus Juara Favorit dalam Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Rumah Keluarga Indonesia bersama Safasindo FM. Pada tahun yang sama, ia juga meraih Juara III Festival Seni Jembrana di Bali.
Perjalanan prestasinya terus berlanjut. Selama periode 2022 hingga 2025, Tengku tiga kali berturut-turut dinobatkan sebagai Pembaca Puisi Berbakat Nasional dalam Festival Seni Jembrana, mulai dari kategori SD hingga berhasil menembus tujuh besar kategori SMP. Pada tahun 2025, ia kembali mengukir prestasi dengan meraih Juara II Pendidikan Agama Islam di Yogyakarta dan mendapat kehormatan tampil pada peringatan Hari Puisi Indonesia di Bukittinggi.
Memasuki tahun 2026, prestasi Tengku semakin menguat. Ia berhasil meraih Juara II dalam Lomba Menulis Puisi "Seratus Tahun Jam Gadang" tingkat nasional dengan selisih nilai yang sangat tipis dari peraih juara pertama. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi salah satu pengisi acara utama pada peringatan hari jadi Komunitas Seni Kuflet di Padang Panjang.
Di balik berbagai penghargaan yang diraihnya di bidang sastra, Tengku tetap menunjukkan kesungguhan dalam pendidikan. Ayahnya, Adri Sandra, mengungkapkan bahwa putranya tumbuh dalam lingkungan yang mendorong keseimbangan antara literasi, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter.
"Tengku memiliki ketertarikan yang sama besar terhadap sastra dan ilmu pengetahuan. Sejak awal ia sudah memiliki cita-cita menjadi dokter gigi. Kami hanya berusaha mendampingi dan memberikan ruang agar seluruh potensinya berkembang," ujar Adri Sandra.
Komitmen tersebut tercermin dari capaian akademiknya. Pada kenaikan kelas tahun ini, Tengku memperoleh nilai rapor rata-rata 94,60. Di samping itu, ia juga telah menghafal sembilan juz Al-Qur'an, sebuah pencapaian yang menunjukkan keseriusannya dalam memperdalam pendidikan agama.
Sebagai remaja Minangkabau yang tumbuh dengan nilai adat dan agama, Tengku berharap generasi muda Indonesia terus membangun budaya membaca, berkarya, dan memperkuat karakter.
"Cintailah buku dan biasakan membaca. Teruslah berkarya dengan kreativitas yang dimiliki. Yang tidak kalah penting adalah menjaga iman dan takwa serta memahami ajaran Al-Qur'an sebagai pedoman hidup," pesannya.
Perjalanan yang telah ditempuh Tengku Basti Asika menunjukkan bahwa sastra, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai spiritual bukanlah hal yang saling bertentangan. Ketiganya justru dapat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi muda yang berprestasi, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Dengan bekal prestasi, dedikasi, dan cita-cita yang dimilikinya, Tengku Basti Asika berpeluang menjadi salah satu generasi muda yang membawa nama Luak Limopuluah ke tingkat yang lebih luas—seorang penyair yang mencintai ilmu pengetahuan, sekaligus calon dokter yang tetap memelihara kepekaan melalui sastra.(*/Dyl )
