BECKER.BIZ.ID-Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas delapan strategi upselling yang dapat diterapkan di outlet untuk meningkatkan penjualan.
Meningkatkan penjualan merupakan topik yang sangat diminati oleh para pelaku bisnis kuliner. Salah satu strategi efektif yang dapat digunakan adalah upselling, yaitu teknik untuk meningkatkan average check atau nilai rata-rata pembelian pelanggan di outlet.
Berikut delapan strategi yang dapat segera Anda terapkan:
8 Cara Melakukan Up Selling di dalam Outlet
1. Menawarkan Paket Produk
Saat pelanggan datang ke outlet, strategi paket bertujuan agar mereka yang semula hanya ingin membeli satu produk, terdorong untuk membeli dua hingga tiga produk atau lebih.
Namun demikian, jika dihitung secara satuan, pelanggan tetap merasa mendapatkan harga yang lebih hemat.
Bentuk paket dapat bervariasi, misalnya: paket makanan dan minuman, dua makanan dengan dua minuman dan satu camilan untuk dua orang, atau satu jenis makanan yang dikemas untuk tiga hingga lima orang. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan average check.
Namun, ada hal penting yang harus diperhatikan: paket harus ditawarkan secara aktif kepada pelanggan, baik melalui desain visual di outlet maupun secara verbal oleh staf. Penawaran ini sebaiknya dilakukan saat pelanggan baru akan memesan.
2. Strategi Ukuran Lebih Besar (Upsize)
Tawarkan opsi upsize pada saat pelanggan melakukan pemesanan. Misalnya: “Apakah nasi ingin dalam porsi besar?”, “Apakah kentang goreng ingin ukuran besar?”, atau “Untuk minuman teh atau kopi, ingin ukuran jumbo?”
Strategi ini dapat menjadi salah satu cara bagi staf outlet untuk meningkatkan penjualan secara signifikan.
3. Menyusun SOP dan Melatih Staf
Standar Operasional Prosedur (SOP) harus tersedia dalam format sederhana. Buatlah 1–3 poin yang mudah diingat oleh kasir atau pramusaji.
Setelah SOP disusun, lakukan pelatihan. Tunjukkan bagaimana cara menawarkan upselling sesuai alur pelayanan, baik di meja maupun di kasir.
Letakkan SOP di area yang mudah dilihat oleh staf, misalnya di dekat mesin kasir, agar mereka dapat mengingat tahapan pelayanan dengan mudah sebelum pelanggan melakukan pembayaran.
4. Menyediakan Menu Cetak atau Buku Menu di Meja
Jika pelanggan duduk terlebih dahulu sebelum memesan, mereka akan melihat objek yang tersedia di meja. Oleh karena itu, sediakan menu cetak atau buku menu yang menampilkan penawaran upselling, seperti paket hemat dan ukuran lebih besar.
Pastikan desainnya menarik, disertai foto produk yang menggugah selera.
Hal ini akan membantu staf ketika menawarkan menu dengan menunjuk langsung ke gambar. Riset menunjukkan bahwa visual makanan yang menarik dapat memengaruhi keputusan pelanggan.
5. Memanfaatkan Waktu Tunggu dengan Menawarkan Camilan
Saat pelanggan menunggu makanan utama, sediakan camilan di meja atau tawarkan melalui staf. Pastikan semua transaksi tetap tercatat dan terkontrol.
Strategi ini cukup efektif karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung mengambil camilan seperti kerupuk secara spontan.
Camilan juga dapat ditawarkan sebagai hidangan pembuka ataupun sebagai pencuci mulut (dessert).
6. Menggunakan Strategi Point of Purchase (POP)
Strategi Point of Purchase dapat diterapkan sebagaimana praktik di supermarket atau minimarket.
Pasang materi visual (POP) di titik-titik strategis, seperti pintu masuk, area kasir, langit-langit outlet, atau rak produk.
Contohnya, gambar dimsum yang menggoda di pintu masuk bisa langsung memberi sugesti kepada pelanggan untuk memesannya.
Uji efektivitas POP dengan datang ke outlet Anda sendiri. Perhatikan ke mana arah pandangan Anda pertama kali tertuju. Di titik itulah sebaiknya POP ditempatkan.
7. Menjual Produk Siap Bawa Pulang
Kemampuan konsumsi pelanggan di tempat tentu memiliki batas.
Namun, Anda masih bisa meningkatkan penjualan dengan menyediakan produk siap bawa pulang, seperti makanan beku (frozen food), camilan, oleh-oleh, atau produk dengan kemasan vakum.
Produk-produk tersebut mungkin tidak langsung dikonsumsi di tempat, tetapi akan dikonsumsi di rumah atau tempat kerja.
Strategi ini bertujuan untuk memaksimalkan stomach share dari pelanggan.
8. Menyediakan Sistem Pemesanan dan Pembayaran dari Meja
Banyak pelanggan enggan menambah pesanan karena harus memanggil staf, mengantre di kasir, atau menunggu terlalu lama.
Saat ini, teknologi sudah memungkinkan sistem pemesanan dan pembayaran langsung dari meja, misalnya melalui QR code atau sistem pay table.
Pelanggan cukup memindai kode QR, memilih menu, membayar langsung, dan pesanan akan terhubung ke dapur atau bar.
Fitur upselling juga dapat disisipkan dalam sistem ini, seperti penawaran ukuran lebih besar atau menu tambahan.
Demikian delapan strategi upselling yang dapat Anda terapkan di outlet kuliner. Apabila dijalankan dengan serius dan konsisten, strategi ini berpotensi menghasilkan peningkatan omzet hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Semoga bermanfaat. (*)
