Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menteri PPPA Minta Maaf atas Usulan Pemindahan Gerbong KRL Perempuan ke Tengah

30 April 2026 | 30 April WIB Last Updated 2026-04-30T02:36:00Z

 


BECKER.BIZ.ID — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, meminta maaf atas usulan yang sempat mencuat terkait pemindahan gerbong khusus perempuan ke posisi tengah rangkaian kereta rel listrik (KRL).

 Usulan ini disampaikannya setelah kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa, termasuk penumpang perempuan di gerbong yang terletak di ujung kereta. Arifah menyadari bahwa usulan tersebut kurang tepat dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak pihak.

“Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” ungkap Arifah melalui unggahan di akun Instagram resmi Kementerian PPPA, Rabu malam (29/4).

Menteri Arifah menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam kebijakan transportasi, tanpa memandang gender. Ia menggarisbawahi bahwa keselamatan seluruh penumpang, baik perempuan maupun laki-laki, harus tetap menjadi fokus utama.

Dalam keterangannya, Arifah juga menegaskan bahwa tidak ada maksud untuk mengabaikan keselamatan penumpang KRL lainnya. Usulan tersebut, menurutnya, hanya merupakan ide awal yang muncul seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap keselamatan pasca-insiden kecelakaan. 

"Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak," tambah Arifah.

Saat ini, kata Arifah, prioritas pemerintah adalah memberikan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. Ia juga menyampaikan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan cepat dan adil terhadap korban sudah diterima dengan baik oleh pihaknya.

Kementerian PPPA, menurut Arifah, berkomitmen untuk memberikan pendampingan psikologis, perlindungan, dan dukungan kepada keluarga korban, terutama anak-anak yang kehilangan orang tua dalam tragedi tersebut. 

“Kami sangat berduka atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa ini. Kementerian PPPA berkomitmen untuk memberikan dukungan yang diperlukan, khususnya bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak trauma akibat peristiwa ini,” jelasnya.

Arifah juga mengajak seluruh masyarakat untuk memusatkan perhatian pada penanganan korban dan perbaikan sistem keselamatan transportasi publik, agar tragedi serupa tidak terulang. 

“Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi ke depan,” sambungnya.

Sebelumnya, Arifah mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindah ke posisi tengah rangkaian KRL. Ia beralasan bahwa gerbong yang berada di posisi depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi jika terjadi kecelakaan, sementara gerbong perempuan selama ini berada di ujung kereta. Namun, usulan ini mendapat berbagai tanggapan, termasuk kritik dari sejumlah pihak, yang menilai pemindahan posisi gerbong tidak akan mengurangi risiko tabrakan.

Meski demikian, Arifah menegaskan bahwa usulan tersebut masih bersifat awal dan belum dibahas lebih lanjut. "Ini masih merupakan usulan awal dan kami masih perlu berdiskusi lebih lanjut mengenai solusi yang terbaik,” katanya.

Usulan Arifah tersebut sempat memicu perdebatan publik. Beberapa pihak mengkritik bahwa pemindahan posisi gerbong perempuan tidak akan memberikan solusi signifikan dalam meningkatkan keselamatan penumpang KRL. Anggota DPR dan berbagai pakar transportasi juga menyatakan bahwa kebijakan keselamatan yang lebih menyeluruh perlu diterapkan, termasuk perbaikan infrastruktur dan sistem operasional KRL.

Meskipun demikian, pernyataan Arifah mengenai permintaan maaf dan penegasan fokus pada keselamatan bagi semua penumpang mendapat dukungan dari berbagai kalangan, yang berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Dengan berlarutnya diskusi mengenai masalah keselamatan transportasi ini, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah yang lebih komprehensif untuk melindungi seluruh penumpang KRL, tanpa membedakan jenis kelamin atau status sosial.(*)

×
Berita Terbaru Update