10 Peran Penting Digitalisasi
BECKER.BIZ.ID-Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari mengenai sepuluh peran digitalisasi dalam bisnis kuliner.
Mungkin selama ini banyak yang beranggapan bahwa bisnis kuliner tidak memiliki keterkaitan dengan teknologi, apalagi dengan digitalisasi. Ketika mendengar kata kuliner, yang terlintas di benak biasanya adalah wajan, panci, dan kompor.
Padahal, kenyataannya teknologi dalam dunia bisnis kuliner telah berkembang sangat pesat, sehingga mendorong banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor kuliner memiliki kinerja yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Salah satu contohnya adalah penggunaan teknologi Customer Relationship Management (CRM) yang mampu meningkatkan akuisisi pelanggan dengan biaya hingga lima kali lebih murah.
Seperti apa sebenarnya peran digitalisasi dalam bisnis kuliner? Mari kita bahas satu per satu dalam sepuluh poin berikut.
10 Peran Digitalisasi dalam Bisnis Kuliner
1. Peningkatan profitabilitas.
Dalam konteks bisnis, profitabilitas sangat erat kaitannya dengan produktivitas mesin produksi, produktivitas sumber daya manusia, pertumbuhan jumlah konsumen, peningkatan modal untuk ekspansi, serta efisiensi manajemen.
Teknologi hadir untuk memberikan transparansi informasi, misalnya dalam hal keuangan yang diperbarui secara real-time.
Dengan begitu, seluruh pihak dapat memantau perkembangan usaha secara langsung dan berkelanjutan, sehingga pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan lebih cepat, efisien, dan akurat.
Penerapan teknologi dalam bisnis kuliner dapat menjadi aset tersendiri. Sebagai contoh, penggunaan aplikasi CRM mampu mendorong terjadinya pembelian berulang (repeat buying) secara efektif sehingga profitabilitas perusahaan dapat meningkat secara signifikan.
2. Menjaga pertumbuhan (maintaining growth).
Setiap pelaku bisnis tentu menginginkan usahanya terus berkembang. Pertumbuhan bisnis dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu vertical growth dan horizontal growth.
Vertical growth terjadi ketika perusahaan mampu memaksimalkan potensi yang sudah ada untuk menghasilkan keuntungan lebih besar, sedangkan horizontal growth terjadi ketika perusahaan berhasil menjelajahi peluang-peluang baru di pasar yang lebih luas.
Contohnya, melalui aplikasi CRM, perusahaan dapat meningkatkan retensi pelanggan agar tidak beralih ke kompetitor.
Konsumen tidak hanya dipertahankan, tetapi juga didorong untuk berbelanja lebih banyak, lebih sering, bahkan merekomendasikan produk kepada orang lain. Sementara itu, horizontal growth dapat didukung melalui riset pasar digital.
Saat ini, riset pasar bisa dilakukan dengan cepat, akurat, dan hemat biaya berkat teknologi, sangat relevan mengingat tren kuliner terus berubah dengan cepat.
3. Digitalisasi berperan dalam meningkatkan valuasi perusahaan.
Bagi investor, nilai perusahaan sangat penting. Bisnis yang telah menerapkan teknologi dengan baik akan dinilai lebih positif karena dianggap adaptif dan berkelanjutan.
4. Menjaga merek (brand) agar tetap relevan.
Konsumen masa kini mudah bosan terhadap merek yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Melalui teknologi, bisnis kuliner dapat tetap relevan, misalnya dengan menghadirkan aplikasi pemesanan, sistem keanggotaan digital, atau promosi personal melalui aplikasi seluler.
5. Mengungguli kompetisi.
Persaingan bisnis kini tidak lagi hanya soal produk, melainkan soal penguasaan data dan informasi.
Pelaku bisnis kuliner yang mampu memanfaatkan data pelanggan—seperti kebiasaan belanja, waktu favorit, serta jenis promo yang disukai—akan memiliki keunggulan kompetitif dibanding pesaingnya.
6. Meningkatkan loyalitas pelanggan (customer loyalty and lifetime value).
Teknologi memungkinkan pelaku usaha mengenali setiap pelanggan secara personal, bahkan ketika jumlah pelanggan sudah mencapai ribuan. Dengan data tersebut, bisnis dapat menciptakan program loyalitas dan promosi yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan pelanggan.
7. Memperkuat kepercayaan dan loyalitas di lingkungan internal perusahaan.
Teknologi juga memberikan dampak positif bagi pengelolaan sumber daya manusia, seperti sistem absensi digital, penggajian otomatis, serta transparansi proses antar-cabang.
Hal ini memudahkan pemilik usaha dalam memantau kondisi bisnis di setiap cabang dan menyelesaikan permasalahan secara cepat.
8. Mempercepat proses pengambilan keputusan.
Jika dulu keputusan ekspansi atau promosi membutuhkan waktu lama karena keterbatasan data, kini dengan adanya teknologi analitik dan riset digital, keputusan strategis dapat diambil dengan lebih cepat, tepat, dan berbasis data.
9. Meningkatkan efisiensi operasional.
Digitalisasi menciptakan efisiensi melalui sistem yang saling terhubung (interconnectivity), seperti sistem inventori digital yang mampu memantau persediaan bahan baku sejak pengadaan hingga penyimpanan.
Dengan sistem ini, potensi kebocoran biaya dapat ditekan secara signifikan.
10. Memperkuat strategi pemasaran melalui konsep omnichannel marketing.
Teknologi memungkinkan seluruh saluran pemasaran seperti papan reklame, media sosial, situs web, hingga aplikasi pesan singkat terhubung dan saling memperkuat, membentuk ekosistem promosi yang efektif serta meningkatkan tingkat konversi penjualan.
Sebagai kesimpulan, pelaku bisnis kuliner tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan teknologi yang ada di sekitarnya. Inovasi seperti close loop marketplace, TikTok marketing, hingga chatbot otomatis kini terbukti mampu membantu bisnis kuliner tumbuh lebih cepat dan efisien.
Pelajari, pilih, dan terapkan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnismu.
Semoga informasi ini bermanfaat. (*)

COMMENTS