![]() |
| Memahami mengenai Profit and Loss dalam Bisnis. (Foto: Dok istimewa) |
BECKER.BIZ.ID-Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai alasan mengapa seorang manajer outlet perlu memahami PnL atau profit and loss.
Setidaknya ada lima alasan utama mengapa para manajer bisnis kuliner yang saat ini berkarier atau sedang mengelola outlet perlu memahami aspek keuangan.
Memahami kenapa Manager Outlet harus Paham profit and loss
1. Ketika kita memimpin sebuah bisnis, kita harus memahami tujuan dari setiap aktivitas yang selama ini kita jalankan.
Tujuan utama menjalankan bisnis adalah menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Pada akhirnya, pembahasan mengenai profit selalu berkaitan dengan angka.
Jika tujuan kita berbasis angka tetapi kita tidak memahami angka tersebut, maka kita tidak dapat mendefinisikan tujuan secara efektif dan efisien. Hal ini berpengaruh pada kemampuan kita menyusun program kerja yang tepat untuk mencapai target yang ingin diraih.
Dengan memahami angka, kita mengetahui indikator apa saja yang harus ditetapkan, dikunci, dan dijabarkan dalam berbagai program kerja yang akan dijalankan, baik oleh kita sebagai pimpinan strategis maupun oleh seluruh tim.
Dengan demikian, setiap anggota tim mengetahui arah dan tujuan dari pekerjaan yang mereka lakukan.
2. Pemahaman terhadap angka memungkinkan kita menyusun inisiatif yang tepat untuk mencapai target.
Contohnya, ketika target penjualan harus meningkat sebesar 10 persen, kita harus mengetahui 10 persen dari angka berapa. Tentu saja 10 persen dari 20 juta berbeda dengan 10 persen dari 2 juta.
Jika kita mengetahui secara spesifik bahwa target penjualan harian adalah lima juta rupiah atau seratus dua puluh juta rupiah per bulan, maka kita dapat memecahnya menjadi indikator yang lebih detail.
Misalnya, lima juta rupiah per hari dapat dicapai dari berapa transaksi (TC) dan berapa rata-rata nilai per transaksi (EPC). Jika EPC ditetapkan sebesar Rp50.000, maka kita membutuhkan sekitar 100 transaksi per hari.
Selanjutnya, kita dapat memetakan dari mana transaksi tersebut berasal, seperti dine-in, layanan aplikasi makanan, takeaway, atau pesanan besar. Semua angka tersebut harus dikunci sehingga apabila target meningkat pada kuartal berikutnya, kita dapat mengidentifikasi strategi apa yang harus dilakukan, apakah menaikkan EPC, meningkatkan jumlah transaksi, atau menambah kanal penjualan baru.
3. Pemahaman terhadap PnL membantu kita mengetahui batasan finansial dalam mencapai tujuan bisnis.
Keuntungan diperoleh dari selisih antara pendapatan dan biaya, termasuk biaya bahan baku (HPP), biaya sumber daya manusia (SDM), biaya operasional, dan biaya lainnya. Setiap jenis biaya memiliki indikator tertentu.
Misalnya, persentase HPP, persentase biaya SDM terhadap pendapatan, serta biaya operasional lainnya yang harus tetap dalam batas aman. Jika terjadi penurunan penjualan dari lima juta menjadi tiga juta rupiah per hari, kita dapat segera melakukan analisis terhadap laporan keuangan: biaya mana yang dapat dikurangi agar profitabilitas tetap terjaga meskipun pendapatan menurun.
4. PnL berfungsi sebagai alat kontrol dalam bisnis. Kita memiliki target bulanan, kuartalan, hingga tahunan.
Misalnya target harian lima juta rupiah, target bulanan seratus lima puluh juta rupiah, dan target tahunan satu koma delapan miliar rupiah. Setiap kuartal perlu dilakukan evaluasi terhadap penjualan, margin kotor, serta tingkat pencapaiannya.
Jika tidak sesuai target, kita perlu mengetahui penyebabnya: apakah terkait produk, kenaikan harga bahan baku, tingkat waste yang tinggi, atau adanya void yang berlebihan. Selain itu, kita juga harus memeriksa pendapatan operasional, komposisi biaya SDM, produktivitas, serta pembengkakan biaya rumah tangga.
Semua angka ini harus dikontrol secara berkala agar manajer dapat memastikan apakah tim masih berada pada jalur yang benar. Jika tidak, langkah perbaikan dapat segera ditentukan.
Jika melampaui target, kita perlu mengetahui faktor keberhasilannya untuk direplikasi pada periode berikutnya.
5. Seorang manajer restoran harus memahami PnL karena PnL menjadi bahasa komunikasi yang efektif bagi tim. Ketika kita menjalankan inisiatif seperti upselling atau cross selling, instruksi yang tidak disertai penjelasan angka sering kali sulit dipahami oleh tim.
Namun jika dijelaskan kontribusinya terhadap penjualan, dampaknya terhadap bahan baku, serta risiko dan manfaatnya, tim akan lebih mudah memahami dan menjalankan instruksi tersebut. Dengan angka yang konkret, tim tidak hanya bekerja berdasarkan perintah, tetapi mengetahui tujuan, sasaran, dan dampak dari setiap tugas yang mereka lakukan.
Meskipun strategi dapat berubah, angka tetap menjadi acuan yang jelas bagi semua pihak.
Demikian lima hal penting mengenai alasan seorang manajer perlu memahami PnL. (*)
