Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gambar Menggoda, Promo Menggebu, Cara Brand Memicu Belanja Spontan Konsumen

19 November 2025 | 19 November WIB Last Updated 2025-11-19T04:55:00Z


BECKER.BIZ.ID-Secara sederhana, impulse buying adalah kondisi ketika konsumen memutuskan untuk membeli tanpa adanya rencana sebelumnya. Hal ini sebenarnya sangat menguntungkan bagi pelaku usaha karena dapat menghasilkan penjualan tambahan maupun meningkatkan total penjualan. 

Jika konsumen memang berniat datang untuk membeli kopi di kedai kita, itu adalah hal biasa. Namun ketika mereka sampai di outlet dan melihat gambar sop buntut yang menggugah selera hingga akhirnya membeli, itulah yang disebut impulse buying.

Contoh lain, ketika kita sedang menggunakan TikTok, melihat berbagai konten, lalu tiba-tiba muncul seorang kreator yang sedang melakukan siaran langsung menjual dessert Nutella Layer dengan promo menarik. 

Tanpa pikir panjang, kita langsung menekan ikon keranjang untuk membeli. Ini juga merupakan bentuk impulse buying.

Intinya, impulse buying adalah skenario terencana atau by planning, bukan terjadi secara kebetulan. Karena itu, strategi ini dapat diterapkan dalam pengembangan bisnis.

Lalu, di mana saja impulse buying dapat terjadi? Berikut beberapa salurannya:

Penjualan langsung (live selling) di TikTok, Tokopedia, atau Shopee.

Platform layanan pesan antar seperti Gojek, Grab, atau ShopeeFood.

WhatsApp Business.

Email marketing.

Konsumen yang datang langsung ke outlet.

Selanjutnya, bagaimana cara membuat konsumen melakukan impulse buying pada brand kita? Berikut tujuh strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan potensi impulse buying dan mendorong penjualan.

Strategi Meningkatkan Potensi Impukse Buying

1. Penawaran Terbaik: promo diskon atau bundling

Strategi ini merupakan salah satu yang paling banyak digunakan, terutama oleh brand yang berjualan melalui siaran langsung atau layanan pesan antar. Kita dapat membuat penawaran terbaik dalam waktu terbatas untuk satu atau beberapa produk tertentu sehingga konsumen terdorong membeli saat itu juga. Di outlet pun dapat diterapkan, 

misalnya dengan memberikan arahan kepada karyawan untuk menawarkan menu udang dengan diskon 30% setelah konsumen memesan menu utama. Cara ini efektif mendorong pesanan tambahan secara langsung.

2. Endorsement oleh influencer

Impulse buying juga sering terjadi melalui promosi yang dilakukan influencer. Dengan kombinasi promo dan tampilan visual yang menarik, konsumen bisa langsung tergerak melakukan pembelian meski sebelumnya tidak ada rencana. 

Banyak orang yang setelah melihat influencer mengulas makanan di TikTok atau Instagram, langsung membuka aplikasi pesan antar untuk membeli produk tersebut.

3. Tampilan visual dan video

Foto dan video makanan memiliki pengaruh besar, baik di outlet maupun di platform digital. Misalnya, awalnya ingin memesan ayam goreng, tetapi setelah melihat foto petai teri balado atau gurame sambal mangga dengan tampilan yang sangat menarik, konsumen jadi ikut memesan.

 Tampilan visual yang kuat dapat meningkatkan omzet karena konsumen tergoda oleh presentasi produk.

4. Penawaran terbatas atau bersifat mendesak

Contoh penerapannya seperti:

“Waktu terbatas, hanya 1 jam!”

“Hanya hari Minggu ini, diskon 50%!”

“Menu ini hanya tersedia bulan ini!”

Penawaran yang bersifat terbatas dan harus segera diambil dapat menjadi faktor penting pendorong impulse buying.

5. Aroma (Indera penciuman)

Indera penciuman memiliki peran besar dalam mempengaruhi keputusan pembelian. Misalnya, pedagang sate yang sengaja mengipasi bagian berlemak untuk menghasilkan aroma yang menggugah selera. 

Orang yang semula tidak berniat membeli bisa terdorong karena aroma tersebut. Di outlet, strategi ini dapat diterapkan dengan membawa makanan panas beraroma kuat berkeliling agar tercium oleh konsumen lain. Cara ini sangat efektif memancing impulse buying.

6. Pengumuman khusus

Di supermarket sering terdengar pengumuman seperti: “Hanya 10 menit, daging ayam diskon 30%!” dan konsumen langsung bergegas ke bagian penjualan daging meski sebelumnya tidak berniat membeli. 

Dalam bisnis kuliner, strategi ini dapat diterapkan melalui siaran langsung di media sosial atau pengumuman langsung di outlet, misalnya: “Tebus murah sop buntut, hanya 10 porsi, harga Rp10.000!” Pengumuman mendadak dapat memicu pembelian spontan.

7. Demo atau pemberian sampel

Ketika konsumen sudah duduk di meja, kita dapat memberikan sampel tiramisu kecil atau produk lainnya. Jika konsumen merasa rasanya enak, mereka akan melakukan pesanan tambahan. Teknik sampling ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mendorong impulse buying.

Itulah tujuh strategi impulse buying yang dapat diterapkan dalam bisnis kuliner. Semoga bermanfaat. (*)

×
Berita Terbaru Update