BECKER.BIZ.ID — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia (RI) terus berupaya memastikan keselamatan dua kapal tanker milik Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang masih tertahan di Selat Hormuz.
Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengungkapkan bahwa kementerian melalui perwakilan Indonesia di Teheran telah melakukan pertemuan dengan otoritas terkait di Iran untuk mendapatkan informasi terkini mengenai situasi di Selat Hormuz dan memastikan keselamatan kapal-kapal berbendera Indonesia tersebut.
"Kementerian Luar Negeri melalui Perwakilan RI di Teheran telah melakukan pertemuan dengan otoritas terkait di Iran dan terus berkoordinasi erat dengan pihak setempat guna memperoleh informasi terkini mengenai situasi di Selat Hormuz, serta untuk memastikan keselamatan kapal berbendera Indonesia," kata Vahd kepada Kompas.com, Senin (16/3/2026).
Vahd menjelaskan bahwa langkah pertama yang diambil oleh Kemlu adalah menjalin komunikasi dengan pihak Pertamina International Shipping (PIS), yang merupakan pemilik kapal-kapal tersebut. Pihak Kemlu memastikan untuk memantau situasi dengan seksama dan berkoordinasi dengan PIS guna mendapatkan pembaruan informasi tentang status kapal yang tertahan.
"Kementerian Luar Negeri terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan PIS untuk memantau perkembangan situasi secara saksama," tambah Vahd.
Sebelumnya, empat kapal milik PIS diketahui tertahan di Selat Hormuz, yang saat ini menjadi kawasan yang rawan akibat konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS) serta Israel. Keempat kapal tersebut adalah PIS Paragon, PIS Rinjani, Gamsunoro, dan Pertamina Pride. Namun, dua kapal telah berhasil melewati selat tersebut dan melanjutkan perjalanan, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani.
"Dua kapal tersebut, PIS Rinjani dan PIS Paragon, sudah berhasil keluar dari area konflik," ujar Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dalam keterangan tertulis pada Selasa (10/3/2026).
Namun, dua kapal lainnya, Gamsunoro dan Pertamina Pride, masih belum dapat melintas. Gamsunoro melayani pengangkutan kargo untuk konsumen pihak ketiga, sementara Pertamina Pride adalah kapal tanker berukuran sangat besar (very large crude carrier / VLCC) yang sedang mengangkut pasokan minyak mentah untuk kebutuhan energi dalam negeri.
Situasi di Selat Hormuz semakin kompleks setelah adanya ketegangan yang meningkat antara Iran dengan koalisi AS-Israel, yang membuat area tersebut menjadi tidak aman bagi pelayaran. Meskipun dua kapal sudah berhasil keluar dari selat, Gamsunoro dan Pertamina Pride harus menunggu hingga kondisi di selat lebih aman untuk melanjutkan perjalanan.
"Situasi yang terjadi saat ini membuat pengoperasian kapal di kawasan tersebut menjadi lebih berisiko. Kami terus memantau dengan seksama dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keamanan kapal-kapal Indonesia," tambah Vega.
Keadaan yang tidak menentu di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kapal Pertamina, tetapi juga mempengaruhi berbagai perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut, termasuk Chandra Asri dan Pertamina yang sudah merasakan dampaknya secara langsung.
Namun, meski dua kapal sudah berhasil keluar dari konflik, Kemlu RI terus berupaya melakukan lobi dan komunikasi dengan pihak Iran untuk memastikan kelancaran perjalanan dua kapal yang tersisa serta keselamatan awak kapal.
Dengan ketegangan yang masih berlangsung di kawasan tersebut, Kemlu RI berjanji untuk terus memantau perkembangan dan melakukan segala upaya diplomatik yang diperlukan guna memastikan kapal-kapal Indonesia bisa berlayar dengan aman dan sesuai dengan prosedur internasional.
"Kementerian Luar Negeri akan terus berupaya memberikan dukungan dan memastikan keselamatan warganya di luar negeri. Termasuk melakukan lobi-lobi diplomatik dengan negara-negara terkait untuk memastikan kapal Indonesia bisa melanjutkan perjalanan dengan aman," tutup Vahd Nabyl Achmad Mulachela.
Dengan upaya yang terus dilakukan Kemlu RI, diharapkan kedua kapal yang tertahan dapat segera melanjutkan perjalanan mereka melalui Selat Hormuz dengan selamat dan sesuai dengan prosedur keselamatan yang ditetapkan.(nda)
