Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lewat Pelatihan Adat, Pemko Payakumbuh Perkuat Karakter Generasi Muda Hadapi Era Digital

10 July 2026 | 10 July WIB Last Updated 2026-07-10T05:13:36Z

  

 Pemerintah Kota Payakumbuh terus memperkuat upaya pelestarian adat sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi, digitalisasi, dan arus globalisasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Adat Tingkat Kota Payakumbuh bertema 


Payakumbuh, Becker.Biz.Id – Pemerintah Kota Payakumbuh terus memperkuat upaya pelestarian adat sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi, digitalisasi, dan arus globalisasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Adat Tingkat Kota Payakumbuh bertema "Rang Mudo Mengawal Peradaban", yang diikuti perwakilan rang mudo dan puti bungsu dari 10 nagari di Kota Payakumbuh.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Payakumbuh itu dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Payakumbuh, Nofriwandi, mewakili Wali Kota Payakumbuh, di Aula Gedung Serbaguna Sawah Padang Aua Kuniang, Selasa (7/7/2026).

Pelatihan tersebut menjadi wadah pembelajaran sekaligus penguatan nilai-nilai adat Minangkabau agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Pemerintah berharap generasi muda mampu menjaga identitas budaya tanpa tertinggal dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam sambutan tertulis Wali Kota Payakumbuh yang dibacakannya, Nofriwandi menegaskan bahwa falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) harus menjadi pedoman hidup, bukan sekadar slogan budaya. Nilai-nilai tersebut dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter, etika, dan kepribadian generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa pelestarian adat tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial atau kesenian tradisional, tetapi juga melalui penerapan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu di antaranya adalah penerapan Kato Nan Ampek, yang mengajarkan tata krama berkomunikasi sesuai dengan lawan bicara.

"Kita harus memahami kapan menggunakan Kato Mandaki kepada yang lebih tua, Kato Manurun kepada yang lebih muda, Kato Mandata kepada sesama, dan Kato Malereng kepada orang yang dihormati. Etika berkomunikasi merupakan bagian penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat," ujarnya.

Selain itu, peserta juga diingatkan mengenai pentingnya mengamalkan nilai Sumbang Duo Baleh, yakni pedoman adat yang mengatur sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara duduk, berdiri, berjalan hingga bertutur kata. Menurutnya, nilai tersebut tetap relevan sebagai benteng moral di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.

Nofriwandi menegaskan bahwa menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, masyarakat Minangkabau dikenal memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.

Ia mengutip pepatah Minangkabau, "Sakali aia gadang, sakali tapian barubah," sebagai pengingat bahwa perubahan merupakan keniscayaan. Tantangan saat ini hadir dalam bentuk digitalisasi, kecerdasan buatan, dan globalisasi yang harus disikapi secara bijaksana.

Karena itu, ia mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperkenalkan adat, seni, dan budaya Minangkabau kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya.

Menurutnya, keberhasilan menjaga kelestarian adat membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, Kerapatan Adat Nagari (KAN), Bundo Kanduang, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga generasi muda.

"Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Dengan semangat Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang; saciok bak ayam, sadanciang bak basi, kita dapat menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman," katanya.

Pelatihan adat tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Juli 2026. Para peserta memperoleh berbagai materi dari unsur Pemerintah Kota Payakumbuh, niniak mamak, serta budayawan dari Kota Payakumbuh dan Provinsi Sumatera Barat.

Materi yang diberikan mencakup falsafah adat Minangkabau, kepemimpinan, etika dalam kehidupan bermasyarakat, strategi pelestarian budaya daerah, hingga peran generasi muda dalam menjaga peradaban pada era digital.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN), Bundo Kanduang dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh, serta perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Payakumbuh.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kota Payakumbuh berharap lahir generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, menjunjung tinggi nilai-nilai adat, serta mampu menjadi pelopor pelestarian budaya Minangkabau. Penguatan karakter berbasis budaya tersebut juga diharapkan mendukung terciptanya harmoni sosial sekaligus mendorong pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.

Semoga naskah ini sesuai dengan yang Kak Silvania harapkan. Saya menulisnya ulang dengan struktur berita yang lebih kuat, bahasa yang lebih profesional, tetap mempertahankan substansi, dan berbeda dari naskah asli sehingga layak untuk dipublikasikan.(*/Dyl )

×
Berita Terbaru Update