-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

IPH Kalteng Terkendali, Kemarau dan Surutnya Sungai Mulai Ganggu Distribusi Pangan

25 August 2026 | 25 August WIB Last Updated 2026-08-25T12:38:20Z
Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, saat mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kantor Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Senin (24/8/2026). (Foto: Bahrawi)



Palangka Raya – Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) masih berada dalam kondisi terkendali. Ketersediaan bahan pangan pokok yang mencukupi menjadi salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas harga di wilayah tersebut.


Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, mengatakan tren IPH Kalteng menunjukkan penurunan sehingga laju inflasi daerah masih dapat dikendalikan.


“IPH Kalteng mengalami penurunan sehingga kondisi inflasi masih terkendali. Ketersediaan kebutuhan pokok, termasuk beras, hingga saat ini masih mencukupi,” ujar Yuas usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang digelar secara virtual dari Ruang Rapat Bajakah, Kantor Gubernur Kalteng, Senin (24/8/2026).


Meski kondisi harga relatif stabil, Yuas mengingatkan adanya tantangan yang mulai muncul akibat musim kemarau yang masih berlangsung. Penurunan debit air sungai di sejumlah daerah dinilai berdampak pada aktivitas transportasi dan distribusi barang, terutama di wilayah yang masih mengandalkan jalur sungai sebagai akses utama.


Menurutnya, surutnya permukaan air sungai telah menyulitkan operasional transportasi air dan jasa penyeberangan di beberapa kawasan, termasuk di Kabupaten Katingan.


“Penurunan debit sungai menyebabkan aktivitas transportasi dan penyeberangan menjadi terganggu. Kondisi ini turut memengaruhi distribusi kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah,” katanya.


Ia menjelaskan, masyarakat yang selama ini bergantung pada layanan penyeberangan sungai mulai mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari karena sebagian layanan tidak dapat beroperasi secara normal.


Selain menghambat mobilitas warga, keterbatasan transportasi sungai juga berpotensi memperlambat distribusi barang kebutuhan pokok ke daerah-daerah yang aksesnya masih bergantung pada jalur perairan.


Yuas menambahkan, hingga saat ini kondisi kemarau masih ditandai dengan curah hujan yang rendah dan belum merata di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. Karena itu, pemerintah daerah berharap hujan segera turun untuk mengurangi dampak yang lebih luas.


“Curah hujan masih rendah dan belum merata. Kami berharap musim kemarau tidak berlangsung terlalu lama sehingga aktivitas masyarakat dan distribusi logistik dapat kembali normal,” ujarnya.


Untuk mengantisipasi dampak yang semakin besar, Yuas menilai upaya modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan. Selain membantu mengatasi kekeringan, langkah tersebut juga dinilai dapat mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai terjadi di sejumlah wilayah.


“Modifikasi cuaca perlu menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan. Di saat yang sama, penanganan karhutla harus terus diperkuat agar tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar,” pungkasnya. ( Bahrawi)

×
Berita Terbaru Update