![]() |
| Salahsatu budidaya ikan air tawar milik masyarakat |
Agam, Becker.Biz.Id — Seluas 94 hektare kolam budidaya di Kabupaten Agam yang mengalami kerusakan ringan ditargetkan kembali beroperasi secara penuh pada September 2026. Target tersebut menjadi bagian dari pemulihan sektor perikanan di Sumatera Barat yang mencakup 217 hektare kolam budidaya terdampak, dengan 174 hektare di antaranya diproyeksikan kembali produktif pada periode yang sama.
Selain rehabilitasi lahan budidaya, pelaku usaha juga akan memperoleh dukungan berupa benih ikan dan pakan untuk mempercepat siklus produksi. Bantuan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban biaya awal yang harus ditanggung pembudidaya setelah bencana.
Di sisi nelayan, bantuan berupa 60 unit alat penangkapan ikan disiapkan untuk mendukung aktivitas melaut. Sementara pada sektor hilir, pelaku usaha pengolahan hasil perikanan menerima bantuan peralatan pengolahan dan cool box guna menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus memperkuat rantai distribusi.
Secara regional, dukungan bagi sektor pengolahan mencakup 70 unit peralatan pengolahan dan 500 cool box yang akan disalurkan ke sejumlah daerah terdampak di Sumatera Barat, termasuk Kabupaten Agam, Kota Padang, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Tanah Datar.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Andy Artha Donny Oktopura, mengatakan pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga memastikan pelaku usaha dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi.
"Kami ingin memastikan masyarakat yang terdampak dapat kembali berproduksi, kembali bekerja, sehingga aktivitas ekonomi di sektor perikanan dapat pulih lebih cepat," ujarnya (1/8/2026).
Menurutnya, percepatan rehabilitasi kawasan budidaya dan penyediaan sarana produksi menjadi langkah penting untuk mengembalikan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan berbasis perikanan.
Selain pemulihan jangka pendek, penguatan sektor perikanan juga dipersiapkan melalui rencana rehabilitasi unit pengolahan ikan dan sentra pengolahan hasil perikanan pada periode 2027–2028. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat rantai pasok, serta mendorong daya saing usaha perikanan di daerah.
Dengan mulai pulihnya kawasan budidaya, tersedianya sarana produksi, serta dukungan peralatan bagi nelayan dan pelaku usaha pengolahan, sektor perikanan di Agam diharapkan kembali menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi masyarakat pascabencana. (Anz)
