-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Siswa SD di Padang Diduga Jadi Korban Kekerasan Guru, Alami Trauma hingga Enggan Masuk Sekolah

23 August 2026 | 23 August WIB Last Updated 2026-08-23T03:58:03Z
Bekas lebam pada pipi siswa berinisial C (9) yang diduga akibat dicubit oleh gurunya di SDN 27 Sawahan Dalam, Kecamatan Padang Timur. (Foto: Dedi)



Padang, Becker.biz.id– Dugaan tindakan kekerasan terhadap seorang siswa sekolah dasar mencuat di Kota Padang. Seorang siswa berinisial C (9), murid kelas III SDN 27 Sawahan Dalam, Kecamatan Padang Timur, diduga mengalami kekerasan fisik berupa cubitan yang dilakukan oleh seorang guru berinisial R.


Akibat peristiwa tersebut, korban disebut mengalami trauma hingga tidak mau kembali bersekolah. Keluarga juga menemukan bekas lebam pada bagian pipi korban yang diduga akibat cubitan tersebut.


Tante korban, Riri, mengatakan pihak keluarga baru mengetahui dugaan kejadian itu setelah mendapat cerita langsung dari C pada Kamis (20/8). Saat itu, korban mengaku tidak ingin lagi pergi ke sekolah karena merasa takut setelah diduga beberapa kali dicubit oleh gurunya.


"Kami mendapat cerita dari anak bahwa dia tidak mau sekolah karena dicubit oleh gurunya. Sampai sekarang anak kami mengalami trauma dan takut untuk kembali ke sekolah," kata Riri, Jumat (21/8).


Menurutnya, perubahan sikap korban mulai terlihat setelah kejadian tersebut. Anak yang tinggal di kawasan Lubuk Lintah itu disebut menjadi lebih tertutup dan kehilangan keberanian untuk berangkat ke sekolah.


Mendapat informasi tersebut, pihak keluarga kemudian mendatangi SDN 27 Sawahan Dalam untuk meminta klarifikasi terkait dugaan tindakan kekerasan yang dialami korban. Selain itu, keluarga juga ingin menanyakan kondisi pipi korban yang mengalami lebam dan perubahan warna.


Saat berada di sekolah, keluarga bertemu dengan guru berinisial R yang diduga melakukan tindakan tersebut. Namun, upaya klarifikasi itu disebut tidak berjalan sesuai harapan.


Riri mengungkapkan, saat mempertanyakan dugaan cubitan terhadap korban, pihak keluarga justru menerima pernyataan yang dinilai tidak pantas. Guru tersebut disebut menyampaikan bahwa korban dianggap "bodoh", sehingga menjadi alasan dirinya mencubit anak tersebut.


Pernyataan itu membuat keluarga keberatan. Mereka menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan terhadap anak, terlebih dilakukan di lingkungan pendidikan.


"Kami sangat menyayangkan jika alasan itu yang digunakan. Bagaimanapun juga, anak-anak seharusnya mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang baik, bukan kekerasan," ujarnya.


Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak sekolah maupun guru yang bersangkutan terkait dugaan tersebut. Pihak keluarga berharap ada penjelasan dan penyelesaian yang adil agar kejadian serupa tidak terulang di lingkungan sekolah.


Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Dugaan kekerasan terhadap peserta didik diharapkan dapat ditangani secara serius sesuai ketentuan yang berlaku. ( Dedi)

×
Berita Terbaru Update