![]() |
| Usaha penggilingan tepung beras Gusgiaandri (Foto : Rahmad) |
Solok, Becker.Biz.Id – Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk usaha penggilingan tepung beras.
Jika dahulu proses pembuatan tepung beras dilakukan secara tradisional menggunakan lesung dan alu, kini pekerjaan tersebut beralih ke mesin modern yang lebih cepat, praktis, dan efisien.
Salah satu pelaku usaha yang tetap bertahan mengikuti perkembangan zaman adalah Gusfiaandri (45), warga Jorong Kapalo Koto, Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.
Selama bertahun-tahun, ia menjalankan usaha jasa penggilingan tepung beras yang menjadi andalan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku berbagai makanan tradisional.
Menurut Gusfiaandri, pada masa lalu proses pembuatan tepung beras memerlukan tenaga dan waktu yang cukup lama. Beras harus dicuci terlebih dahulu, kemudian dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam lesung kayu atau batu berlubang untuk ditumbuk menggunakan alu hingga menjadi tepung.jum'at 07/08/2026
Setelah setengah halus, tepung kemudian disaring agar menghasilkan tekstur yang lebih lembut. Sisa butiran beras yang belum halus dimasukkan kembali ke dalam lesung untuk ditumbuk berulang kali hingga benar-benar menjadi tepung siap pakai. Seluruh proses tersebut bisa memakan waktu sekitar 20 menit atau lebih untuk setiap proses penumbukan.
"Dulu masyarakat datang membawa beras untuk ditumbuk menggunakan lesung dan alu. Sekarang semuanya sudah menggunakan mesin sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan, cepat, dan hasilnya juga lebih halus," Beber Gusfiaandri (7/8/2026).
Dengan hadirnya mesin penggilingan modern, kapasitas produksi meningkat secara signifikan. Selain menghemat tenaga, proses penggilingan kini hanya membutuhkan waktu beberapa menit sehingga masyarakat tidak perlu lagi menunggu terlalu lama.
Meski telah menggunakan teknologi modern, Gusfiaandri tetap menganggap usaha yang dijalankannya sebagai bagian dari pelestarian tradisi masyarakat Minangkabau. Tepung beras yang dihasilkan masih digunakan sebagai bahan utama pembuatan berbagai makanan khas, seperti kue tradisional, lamang, hingga aneka jajanan adat.
Untuk jasa penggilingan, Gusfiaandri mengenakan tarif Rp5.000 per liter beras. Menurutnya, biaya tersebut masih sangat terjangkau dan sebanding dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
"Yang terpenting bagi kami adalah masyarakat bisa mendapatkan tepung beras dengan cepat, hasilnya bagus, dan dapat langsung digunakan untuk berbagai kebutuhan," katanya.
Usaha yang dijalankan Gusfiaandri menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghilangkan nilai-nilai tradisional. Justru dengan memadukan pengalaman, keterampilan, dan penggunaan mesin modern, pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik tanpa meninggalkan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan usaha penggilingan tepung beras seperti ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar sekaligus mendukung kelestarian kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Solok. (mat)
