![]() |
| Ilustrasi Wasir (Foto: Cahaya Hospital) |
Jakarta, Becker.Biz.Id — Wasir atau hemoroid merupakan salah satu gangguan yang cukup sering dialami masyarakat. Keluhannya dapat bermula dari rasa tidak nyaman hingga munculnya benjolan dan perdarahan saat buang air besar.
Dokter spesialis bedah lulusan Universitas Udayana, Bali, dr. Heru Sutanto Koerniawan, Sp.B, menjelaskan bahwa wasir berkaitan dengan pembuluh darah di sekitar anus yang mengalami pelebaran. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola makan, kebiasaan buang air besar, kehamilan, kegemukan, hingga faktor keturunan.
Beberapa kebiasaan juga dapat meningkatkan risiko munculnya wasir, seperti kurang mengonsumsi makanan berserat, kurang minum, sering mengalami sembelit, duduk terlalu lama, serta mengangkat beban berat.
Gejala wasir dapat berbeda-beda sesuai tingkat keparahannya. Pada stadium pertama, keluhan umumnya berupa keluarnya darah dari anus, terutama ketika buang air besar.
Memasuki stadium kedua, benjolan dapat keluar dari anus ketika mengejan, tetapi masih dapat masuk kembali dengan sendirinya.
Pada stadium ketiga, benjolan yang keluar tidak dapat kembali sendiri dan biasanya perlu didorong masuk menggunakan jari. Sementara stadium keempat ditandai benjolan yang menetap di luar anus dan tidak dapat dimasukkan kembali.
“Penanganannya tergantung pada gejala dan derajat wasir yang dialami pasien,” jelas dr. Heru dalam materi edukasi kesehatan yang disampaikannya melalui YouTube.
Tidak semua penderita wasir membutuhkan tindakan operasi. Pada kondisi tertentu, terutama ketika keluhan masih ringan, penanganan dapat dimulai dengan perubahan pola makan dan gaya hidup.
Pasien dianjurkan meningkatkan konsumsi serat dari buah, sayuran, dan sumber makanan berserat lainnya. Asupan cairan juga perlu diperhatikan untuk membantu mencegah sembelit. Kebiasaan mengejan terlalu kuat saat buang air besar serta duduk terlalu lama di toilet juga sebaiknya dihindari.
Untuk kasus tertentu, dokter dapat melakukan tindakan medis tanpa operasi terbuka. Salah satunya adalah pengikatan benjolan dengan karet gelang atau rubber band ligation. Tindakan ini dapat dilakukan pada kondisi yang sesuai berdasarkan pemeriksaan dokter.
Sementara itu, operasi konvensional dilakukan dengan mengangkat jaringan hemoroid yang bermasalah. Tindakan tersebut memiliki pertimbangan tersendiri karena pasien dapat mengalami nyeri setelah operasi dan membutuhkan waktu pemulihan.
Seiring perkembangan teknologi medis, terdapat pula metode minimal invasif yang dikenal sebagai Doppler-guided Hemorrhoidal Artery Ligation dengan Recto-Anal Repair (DG-HAL/RAR).
Menurut dr. Heru, teknik tersebut menggunakan bantuan Doppler ultrasound untuk membantu menemukan pembuluh darah yang berkontribusi terhadap terjadinya hemoroid. Pembuluh tersebut kemudian diikat tanpa harus memotong jaringan hemoroid secara langsung.
Metode tersebut dapat menjadi salah satu pilihan penanganan pada pasien tertentu, tetapi keputusan mengenai tindakan tetap perlu dilakukan berdasarkan pemeriksaan dan penilaian dokter.
Dr. Heru mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai keluhan semakin berat. Perdarahan dari anus juga tidak selalu disebabkan oleh wasir sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Langkah sederhana seperti memperbanyak makanan berserat, mencukupi kebutuhan cairan, menjaga berat badan, serta mencegah sembelit dapat membantu menurunkan risiko dan mencegah keluhan wasir semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika perdarahan berulang, benjolan semakin besar, nyeri berat muncul, atau keluhan tidak membaik dengan perubahan pola hidup, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai. (wan)
