Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Strategi Jitu Bertahan di Bisnis Kuliner saat Produk Viral Mulai Meredup

03 July 2025 | July 03, 2025 WIB Last Updated 2025-07-03T03:58:25Z


BECKER.BIZ.ID - Menjual produk viral dalam bisnis kuliner memang terasa menggiurkan. Saat tren sedang naik, pelanggan berdatangan tanpa perlu promosi besar-besaran. Banyak pelaku usaha meraih omzet tinggi dalam waktu singkat hanya karena menjual produk yang sedang populer di media sosial. 

Namun, sayangnya, tren bersifat sementara. Ketika hype mereda, tak sedikit usaha yang ikut tenggelam bersama viralnya yang pudar.

Inilah tantangan besar bagi para pelaku usaha kuliner yang bertumpu pada produk viral. 

Mereka sering terlena oleh lonjakan penjualan tanpa menyiapkan strategi jangka panjang. Ketika produk sudah tidak lagi dicari, pelanggan mulai berkurang, dan akhirnya usaha kesulitan bertahan. 

Kondisi ini bisa dicegah jika sejak awal pelaku usaha memiliki perencanaan matang tentang bagaimana mempertahankan bisnis meskipun produk viral sudah tidak relevan.

Artikel ini hadir sebagai panduan bagi Anda yang sedang menjalankan atau berencana membuka usaha kuliner berbasis tren. 

Di dalamnya, kami akan membahas cara menjaga bisnis tetap stabil saat tren mulai turun, mulai dari membangun branding yang kuat, menciptakan nilai tambah, hingga pentingnya melakukan inovasi produk. Karena sejatinya, viral hanyalah pintu masuk—yang membuat usaha bertahan adalah strategi dan kemampuan beradaptasi.

Strategi Mempertahankan Bisnis Kuliner Jika Menjual Produk Viral

1. Memahami Konsep Model Bisnis

Pertama-tama, penting bagi para pelaku usaha untuk memahami konsep model bisnis. Apakah model bisnis Anda memang berfokus pada penjualan produk-produk viral, ataukah produk viral tersebut hanya digunakan sebagai bagian dari strategi pemasaran? Keduanya adalah hal yang berbeda.

Sebagai contoh, banyak pelaku usaha kuliner yang mengusung model bisnis dengan menjual produk-produk viral sebagai inti dari usahanya. 

Namun, jika memilih model ini, Anda harus menyadari konsekuensinya. Salah satunya adalah tren produk yang bisa mengalami penurunan. Tidak semua produk viral mampu bertahan dan berkembang menjadi kategori baru dalam pasar.

Sebagai ilustrasi, es kopi susu yang sempat menjadi tren berkat salah satu kedai kopi justru berhasil bertahan dan kini menjadi kategori produk tersendiri. Namun, lebih banyak lagi produk viral yang pamornya menurun dan akhirnya menghilang dari pasar.

Jika model bisnis Anda bergantung pada produk viral, maka pastikan bahwa saat tren mulai menurun, modal sudah kembali dan usaha telah menghasilkan keuntungan. 

Oleh karena itu, perhitungan modal awal dan biaya operasional harus dilakukan sejak dini agar tidak mengalami kerugian ketika tren berakhir.

Banyak juga pelaku usaha yang menggunakan pendekatan ini, misalnya memiliki 10 gerobak usaha. 

Ketika es kepal Milo sedang tren, semua gerobak menjual produk tersebut. Setelah tren mereda, mereka beralih menjual Thai tea, lalu berganti lagi ke croffle saat produk itu menjadi populer.

Karena perlengkapan usaha telah dimiliki sejak awal, mereka dapat dengan cepat memperoleh kembali modal dan menyesuaikan produk yang dijual sesuai tren yang sedang berlangsung. 

Ini adalah contoh dari model bisnis yang menjadikan produk viral sebagai inti utama.

Sebaliknya, apabila produk viral hanya dijadikan sebagai strategi tambahan, contohnya adalah sebuah kedai kopi yang telah memiliki merek yang kuat, basis data pelanggan, serta variasi menu yang sesuai dengan ekspektasi konsumen.

Saat croffle menjadi viral, produk tersebut dapat dimasukkan ke dalam menu sebagai penunjang penjualan tambahan. 

Langkah ini dapat membantu meningkatkan omzet selama tren tersebut berlangsung.

Umumnya, tren produk bermula dari wilayah atau negara lain, lalu menyebar ke berbagai daerah. Jika kita peka terhadap peluang ini, kita dapat memanfaatkannya dengan menawarkan produk viral kepada pelanggan yang memang sedang mencarinya.

Dengan demikian, penjualan dapat meningkat. Ketika tren berakhir, produk tersebut dapat dihapus dari daftar menu tanpa masalah. Kita tinggal mencari tren baru yang sesuai dengan arah bisnis kita.

Mengikuti tren juga dapat membantu merek bisnis tetap relevan dan terus dibicarakan oleh konsumen. 

Bahkan, dari produk viral yang dicoba, bisa jadi terdapat beberapa yang disukai secara konsisten oleh pelanggan. Produk tersebut kemudian bisa dijadikan menu permanen.

Kesimpulannya, terdapat banyak manfaat dari penggunaan produk viral dalam usaha kuliner. 

Produk tersebut dapat dijadikan sebagai inti model bisnis maupun sebagai strategi untuk meningkatkan penjualan.

Semoga informasi ini bermanfaat. (*)


×
Berita Terbaru Update