![]() |
| Ilustrasi |
Padang, Becker.Biz.Id - Konsumsi daging ayam menjadi bagian dari menu makanan sehari-hari banyak masyarakat. Selain mudah diperoleh, ayam juga dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Namun, pola konsumsi makanan yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan pola makan yang sehat perlu menjadi perhatian.
Hal itu pula yang kini menjadi perhatian Ririn (43), salah seorang penderita kanker payudara. Ia mengaku selama bertahun-tahun cukup sering mengonsumsi menu berbahan dasar ayam, bahkan hampir setiap hari.
Menurut Ririn, ayam menjadi salah satu bahan makanan yang paling sering tersedia dalam menu keluarganya. Berbagai olahan ayam seperti ayam goreng, ayam gulai, ayam bakar maupun masakan lainnya kerap menjadi pilihan.
“Kalau ayam, hampir setiap hari saya makan. Bisa dibilang ayam termasuk menu yang paling sering saya konsumsi,” ujar Ririn saat menceritakan kebiasaan makannya.
Setelah dirinya didiagnosis mengalami kanker payudara, Ririn mulai lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Ia mengaku mulai mempertanyakan kembali pola makan yang selama ini dijalaninya.
Meski demikian, Ririn menyadari bahwa dirinya tidak dapat memastikan apakah kebiasaan mengonsumsi ayam berkaitan dengan penyakit yang dialaminya.
“Saya tidak tahu apakah ada hubungannya atau tidak. Tetapi setelah sakit, saya mulai lebih hati-hati memilih makanan dan mengurangi makanan yang sebelumnya terlalu sering saya konsumsi,” katanya saat kontrol di salah sayu rumah sakit di Padang.
Dari sisi kesehatan, konsumsi ayam pada dasarnya tidak secara otomatis menyebabkan kanker. Daging ayam merupakan salah satu sumber protein yang dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah dan cara pengolahan yang tepat.
Yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan, termasuk frekuensi konsumsi, cara pengolahan, keseimbangan dengan sayur dan buah, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi lemak, garam, gula atau makanan ultra-proses.
Pengolahan ayam dengan cara digoreng menggunakan banyak minyak, misalnya, dapat meningkatkan asupan lemak dan kalori. Sementara itu, konsumsi makanan yang dibakar hingga gosong juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.
Karena itu, pengalaman Ririn lebih tepat dipandang sebagai pengingat untuk mengevaluasi pola makan secara keseluruhan, bukan sebagai bukti bahwa ayam potong menjadi penyebab kanker payudara.
Pakar kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghubungkan satu jenis makanan dengan munculnya kanker. Kanker merupakan penyakit yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik, hormonal, gaya hidup, lingkungan dan pola makan secara keseluruhan.
Bagi masyarakat yang terbiasa mengonsumsi ayam, tidak berarti harus menghindari makanan tersebut. Konsumsi dapat dilakukan secara wajar dengan memilih bagian yang lebih rendah lemak, memperhatikan cara pengolahan dan tetap mengimbanginya dengan sayuran, buah-buahan serta sumber pangan lainnya.
Sementara bagi seseorang yang telah didiagnosis kanker, perubahan pola makan sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran dokter atau ahli gizi yang menangani kondisi pasien.
Pengalaman Ririn menjadi cerita pribadi yang membuatnya kini lebih memperhatikan kesehatan dan pilihan makanan sehari-hari.
“Saya sekarang lebih menjaga makanan. Bukan berarti tidak makan ayam sama sekali, tetapi saya mencoba mengurangi dan membuat makanan lebih beragam,” tuturnya. (wan)
