-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Surau ke Sekolah, "Jangan Biarkan Silek Hidup Hanya Saat Ada Program"

07 August 2026 | 07 August WIB Last Updated 2026-08-07T06:02:42Z

 


OPINI

Oleh :

Syafri Efizon Sidi Madjo Lelo

(Pembina Ekstrakurikuler Silek Tradisi SMAN 3, SMKN 1, dan SMKN 2 Sawahlunto)


Becker.Biz.Id - Ada satu pertanyaan yang barangkali harus kita ajukan dengan jujur: ke mana arah silek tradisi Minangkabau di tengah perubahan zaman?

Pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, apalagi menyalahkan generasi muda. Justru sebaliknya. Kalau hari ini anak-anak muda semakin jauh dari silek, mungkin yang harus kita evaluasi bukan hanya minat mereka, tetapi cara kita memperkenalkan dan mewariskan silek kepada mereka.

Dahulu, silek tumbuh dari surau dan sasaran. Anak-anak datang pada sore atau malam hari. Mereka belajar jurus sekaligus belajar adab, mendengar petuah guru, mengenal sejarah, serta memahami bahwa kemampuan bela diri harus berjalan bersama pengendalian diri.

Silek pada masa itu bukan sekadar kegiatan. Ia menjadi bagian dari kehidupan.

Hari ini situasinya berbeda

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh pilihan. Sekolah menyita sebagian besar waktu mereka. Teknologi dan media sosial menawarkan berbagai hiburan yang jauh lebih cepat menarik perhatian. Berbagai cabang olahraga dan kesenian juga hadir dengan kemasan yang lebih modern.

Dalam kondisi seperti itu, kita tidak bisa terus berharap anak-anak datang sendiri ke sasaran dan mencari silek.

Kalau mereka tidak datang, mungkin sudah saatnya silek yang mendatangi mereka.

Ketika Silek Harus Keluar dari Sasaran

Masuknya silek tradisi ke sekolah melalui program ekstrakurikuler SLTA sederajat se-Sumatera Barat menjadi salah satu jawaban terhadap persoalan tersebut.

Di Sawahlunto, kegiatan ini dilaksanakan di SMAN 3, SMKN 1, dan SMKN 2 yang saya bina.

Namun bagi saya, keberadaan silek di sekolah tidak boleh dibaca sekadar sebagai keberhasilan memasukkan sebuah kegiatan tradisional ke dalam daftar ekstrakurikuler. Ini adalah upaya mencari kembali jalan menuju generasi muda.

Sebab selama ini kita sering mengatakan bahwa anak-anak tidak lagi tertarik pada budaya tradisional. Tetapi kita jarang bertanya: apakah budaya tersebut benar-benar sudah kita hadirkan dengan cara yang bisa mereka pahami?

Ketika kami mulai mengenalkan silek kepada siswa, respons mereka justru memberikan pelajaran penting. Banyak yang tertarik setelah mereka diberi kesempatan untuk mengenal.

Artinya, persoalannya mungkin bukan semata-mata anak muda tidak mau belajar silek. Bisa jadi mereka belum pernah diperkenalkan dengan silek secara dekat.

Jangan Sampai Silek Hanya Menjadi Ekstrakurikuler

Di sinilah tantangan sebenarnya. Membawa silek ke sekolah relatif lebih mudah dibandingkan memastikan silek tetap hidup setelah program berakhir.

Kita harus berhati-hati agar pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial: dibuka, dilatih, didokumentasikan, lalu selesai ketika program selesai.

Kalau itu terjadi, kita hanya memindahkan masalah dari surau ke sekolah tanpa benar-benar menyelesaikannya.

Silek membutuhkan regenerasi

Guru-guru silek harus terus bertambah. Sasaran harus tetap hidup. Anak-anak yang sudah mengenal silek di sekolah harus mempunyai tempat untuk melanjutkan latihan. Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi silek juga harus diwariskan, bukan hanya jurusnya.

Karena kalau yang diwariskan hanya gerakan, suatu saat silek mungkin masih dimainkan, tetapi kehilangan ruhnya.

Kita harus membedakan antara mengajarkan bela diri dengan mewariskan silek tradisi.

Sawahlunto dan Tantangan Identitas

Sawahlunto memiliki karakter yang berbeda. Kota ini dikenal sebagai ruang hidup berbagai kelompok etnis dan kebudayaan.

Keberagaman tersebut adalah kekayaan yang harus dirawat. Karena itu, mempertahankan silek tradisi tidak boleh dimaknai sebagai upaya menempatkan budaya Minangkabau lebih tinggi daripada budaya lainnya.

Justru sebaliknya. Silek harus diperkenalkan sebagai salah satu warisan budaya yang hidup di Sawahlunto dan terbuka untuk dipelajari siapa saja. Anak-anak dari berbagai latar belakang dapat belajar silek tanpa harus merasa kehilangan identitasnya.

Di dalam silek ada nilai yang melampaui sekat etnis: disiplin, keberanian, kesabaran, penghormatan kepada orang lain, pengendalian diri, dan tanggung jawab.

Nilai-nilai itulah yang seharusnya diperkuat. Dengan demikian, silek tidak hanya berbicara tentang masa lalu Minangkabau, tetapi juga dapat berbicara tentang kebutuhan generasi masa kini. Dukungan Pemerintah Penting, Tetapi Tidak Cukup. Program yang membuka ruang bagi silek di sekolah patut diapresiasi. Dukungan pemerintah, termasuk program yang digagas Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasco, memberikan ruang yang selama ini sangat dibutuhkan para pegiat silek.

Namun, kita juga harus kritis. Pelestarian budaya tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada ada atau tidaknya program pemerintah.

Pemerintah dapat memberikan kebijakan, anggaran, fasilitas, dan ruang. Tetapi yang menjaga kesinambungan silek adalah masyarakatnya.

Guru silek harus terus mengajar. Sasaran harus terus hidup. Orang tua harus memberi dukungan. Sekolah harus menjaga keberlanjutan kegiatan. Dan yang paling penting, generasi muda harus menemukan alasan mengapa mereka perlu mempelajarinya.

Jangan sampai setiap kali ada program, silek ramai. Setelah program berakhir, kembali sepi.Kalau itu yang terjadi, berarti kita belum berhasil melakukan regenerasi. Kita baru berhasil membuat sebuah kegiatan.Sekolah Hanya Pintu Masuk. Karena itu, saya melihat sekolah bukan sebagai pengganti surau dan sasaran.

Sekolah adalah pintu

Dari pintu itu, anak-anak diperkenalkan kepada silek. Mereka mengenal gerakannya, sejarahnya, adabnya, dan nilai yang terkandung di dalamnya. Tetapi setelah itu, mereka harus mempunyai jalan untuk masuk lebih jauh.

Sasaran tetap menjadi rumah bagi silek. Di sanalah proses pewarisan dapat berlangsung lebih mendalam. Bukan hanya belajar bagaimana melakukan gerakan, tetapi juga memahami kapan harus menggunakannya, kapan harus menahan diri, serta bagaimana menempatkan ilmu bela diri dalam kehidupan bermasyarakat. Karena hakikat silek bukan mengajarkan manusia untuk mencari lawan. Silek justru mengajarkan manusia mengendalikan dirinya sendiri.

Mengukur Pelestarian dari Regenerasi

Ke depan, ukuran keberhasilan pelestarian silek tidak cukup hanya dihitung dari jumlah sekolah yang memiliki ekstrakurikuler silek atau jumlah siswa yang pernah mengikuti latihan.

Ukuran yang lebih penting adalah regenerasi. Apakah setelah lulus sekolah mereka masih berlatih? Apakah mereka datang ke sasaran?Apakah di antara mereka ada yang kelak menjadi guru silek? Apakah mereka mampu menceritakan sejarah dan filosofi silek kepada generasi setelahnya? Kalau jawabannya ya, barulah kita boleh mengatakan bahwa silek sedang tumbuh.

Sebaliknya, jika silek hanya ramai selama kegiatan sekolah berlangsung, kita harus berani mengakui bahwa pekerjaan rumah kita masih panjang.

Jangan Menunggu Silek Menjadi Kenangan

Saya percaya silek masih memiliki tempat di hati generasi muda. Tetapi tempat itu tidak akan muncul dengan sendirinya. Kita harus menjemput mereka. Kalau dahulu anak-anak datang ke surau untuk belajar silek, sekarang tidak ada salahnya silek datang lebih dahulu ke sekolah. Namun setelah itu, jangan biarkan mereka berhenti di halaman sekolah.

Arahkan mereka kembali ke sasaran

Dari sekolah menuju sasaran. Dari mengenal menuju memahami. Dari belajar jurus menuju memahami nilai. Dari sekadar mengikuti kegiatan menuju kecintaan.

Di situlah pekerjaan besar pelestarian silek sebenarnya. Dukungan pemerintah adalah angin segar, tetapi jangan sampai silek hanya hidup ketika angin program sedang berembus.

Silek harus mampu berdiri di atas kekuatan komunitas, guru, sekolah, keluarga, dan generasi mudanya sendiri.

Sebab budaya yang benar-benar hidup bukan budaya yang terus-menerus diselamatkan. Budaya yang hidup adalah budaya yang mampu melahirkan pewaris. Dan hari ini, tugas kita bukan sekadar mengajarkan silek kepada anak-anak.

Tugas kita adalah memastikan mereka memiliki alasan untuk meneruskannya ketika kita sudah tidak lagi berada di samping mereka. (*)

×
Berita Terbaru Update